Info Penting
Home / Widya Iswara / Legiman, M.Pd / Pembelajaran Orang Dewasa

Pembelajaran Orang Dewasa

 

PEMBELAJARAN ORANG DEWASA

Oleh:

Legiman, S.Pd., M.Pd.

Widyaiswara LPMP D.I. Yogyakarta

Email: [email protected]

ABSTRAK. Belajar adalah kegiatan yang dilakukan secara sadar oleh seseorang yang menghasilkan perubahan tingkah laku pada dirinya sendiri, baik dalam bentuk keterampilan, pengetahuan, maupun sikap. Pendidikan untuk anak-anak dan orang dewasa yang dilaksanakan pada saat ini terjadi dari berbagai situasi dan melalui berbagai kegiatan. Pendidikan seharusnya berada di semua institusi dan saling  berinteraksi untuk membantu individu dalam meningkatkan diri selama hidupnya. Orang dewasa mempunyai keterbatasan yang sangat mempengaruhi proses pembelajaran, sehingga perlu metode/strategi khusus dalam pembelajaran orang dewasa. Secara umum ada dua faktor yang mempengaruhi proses pembelajaran orang dewasa, yaitu faktor psikologis dan faktor fisiologis. Untuk itu pembelajaran bagi orang dewasa harus memperhatikan berbagai hal yang menyangkut dengan prinsip-prinsip dasar pembelajaran orang dewasa. Disamping itu pembelajaran perlu memperhatikan permasalahan yang terkait dengan motivasi, kesulitan melupakan kebiasaan, daya ingat yang buruk, dan penolakan terhadap hal yang baru.

Kata kunci: Belajar, orang dewasa, prinsip pembelajaran.

PENDAHULUAN

Belajar merupakan salah satu kebutuhan hidup manusia yang vital dalam usahanya untuk mempertahankan hidup dan mengembangkan diri dalam kehidupan bermasyarakat. Teknologi dan ilmu pengetahuan selalu berkembang dan saat ini perkembangannya sangat pesat, sehingga menimbulkan berbagai perubahan pada segala aspek kehidupan manusia. Tanpa belajar manusia akan mengalami kesulitan dalam mengadapi dan menyesuaikan diri dari perubahan perubahan tersebut. Dengan demikian belajar merupakan kebutuhan pokok bagi setiap manusia sejak lahir hingga akhir hayat.

Belajar pada hakekatnya adalah kegiatan yang dilakukan secara sadar oleh seseorang yang menghasilkan perubahan tingkah laku pada dirinya sendiri, baik dalam bentuk ketrampilan, pengetahuan, maupun sikap. Dalam belajar terjadi proses interaksi antara orang yang melakukan kegiatan belajar, yaitu warga belajar dengan sumber belajar.

Proses belajar bagi anak-anak dan orang dewasa tidak sama. Belajar bagi anak-anak bersifat untuk mengumpulkan pengetahuan sebanyak-banyaknya. Sedangkan bagi orang dewasa lebih menekankan untuk apa ia belajar.
Konsep diri pada seorang anak adalah bahwa dirinya tergantung pada orang lain. Ketika ia beranjak menuju dewasa, ketergantungan kepada orang lain mulai berkurang dan ia merasa dapat mengambil keputusan sendiri. Selanjutnya sebagai orang dewasa, ia memandang dirinya sudah mampu sepenuhnya mengatur diri sendiri.

Dalam proses pembelajaran orang dewasa (andragogi), ia menghendaki kemandirian dan tidak mau diperlakukan seperti anak-anak, misalnya ia diberi ceramah oleh orang lain tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Apabila orang dewasa dibawa pada situasi belajar yang memperlakukan dirinya dengan penuh penghargaan, maka ia akan melakukan proses belajar dengan penuh penghargaan pula. Ia akan melakukan proses belajar dengan pelibatan dirinya secara mendalam. Situasi tersebut menunjukkan orang dewasa mempunyai kemauan sendiri untuk belajar.

RUANG LINGKUP PEMBELAJARAN ORANG DEWASA

Pendidikan merupakan kebutuhan vital dan mutlak diperlukan baik oleh anak-anak maupun orang  dewasa. Pendidikan merupakan proses belajar sepanjang hayat. Belajar tidak hanya menerima pengetahuan dari pengajar atau pendidik, tetapi belajar juga berasal dari pengalaman yang pernah dialami. Belajar juga merupakan proses berulang tanpa henti untuk mengatasi masalah dan berbagai konflik sosial dan lingkungan. Masalah-masalah sosial yang dihadapi orang dewasa lebih banyak dan lebih serius dibandingkan masalah yang dihadapi pada anak-anak. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan orang dewasa untuk memecahkan masalah jauh lebih besar. Kebutuhan pemecahan masalah ini dapat diperoleh melalui proses pendidikan.

Setiap orang diharapkan dapat memerankan perannya masing-masing dengan baik di tengah masyarakat dan lingkungan kerjanya. Jika tidak mampu melakukan perannya dengan baik, berbagai konsekuensi akan menimpa dirinya. Pendidikan mada masa lalu umumnya disejajarkan dengan anak usia sekolah. Masyarakat dan para pendidik menganggap sepele terhadap pendidikan orang dewasa. Akan tetapi dengan perkembangan ilmu pengetatahuan dan teknologi dibidang sosial, ekonomi, ikut mempengaruhi dunia pendidikan. Pendidikan tidak hanya untuk anak-anak, tetapi pendidikan untuk semua manusia dari anak sampai akhir hayat atau lebih dikenal dengan pendidikan sepanjang hayat.

Pendidikan untuk anak-anak dan orang dewasa yang dilaksanakan pada saat ini terjadi dari berbagai situasi dan melalui berbagai kegiatan. Sekolah dan lembaga sejenis bukan satu-satunya yang berhak untuk mendidik, tetapi masih banyak institusi lain seperti keluarga, tempat ibadah, tempat kerja, media masa, perpustakaan dan masih banyak institusi yang lain. Pendidikan seharusnya berada di semua institusi dan saling  berinteraksi untuk membantu individu dalam meningkatkan diri selama hidupnya.

Selama ini konsep pendidikan sepanjang hayat secara konvensional hanya terbatas pada usia sekolah dan dilaksanakan di sekolah yang digunakan untuk menyiapkan anak mencapai kedewasaan. Padahal, kondisi masyarakat memerlukan implikasi pendidikan sesuai dengan kebutuhan orang dewasa, terutama bagi mereka yang tidak lagi mengikuti pendidikan di lembaga persekolahan.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBELAJARAN ORANG DEWASA

Faktor-faktor yang mempengaruhi orang dewasa dalam belajar dapat bersifat psikologis dan fisiologis. Faktor psikologis mencakup kebutuhan, kecerdasan, motivasi, perhatian, berfikir, ingat dan lupa. Sedangkan faktor fisiologis mencakup pendengaran, penglihatan, dan kondisi fisiologis.

Beberapa faktor psikologis dapat diberikan contoh sebagai berikut:

1.  Harapan masa depan

Harapan masa depan peserta paket dapat mempengaruhi semangat belajar. Adanya keterkaitan dengan pengembangan kariernya di masa depan akan memacu semangat belajar peserta paket.

2.  Latar belakang sosial

Lingkungan sosial yang merupakan masyarakat belajar dapat mempengaruhi peserta. Kesempatan belajar akan dirasakan sebagai peluang berharga untuk menambah kepercayaan dirinya di lingkungan sosialnya.

3.  Keluarga

Bagi para peserta, latar belakang keluarga merupakan faktor yang cukup dominan.
Keluarga yang utuh dan harmonis serta penuh syukur akan berpengaruh positif terhadap dirinya, begitupun sebaliknya. Keluarga dengan banyak anak dan yang sedikit anak akan menimbulkan masalah yang berbeda, hal tersebut juga mempengaruhi sikap belajar.

4.  Daya ingat

Diakui banyak orang bahwa makin lanjut usia dibarengi dengan penurunan daya ingat. Orang dewasa lebih mudah lupa dibanding anak-anak.
Ada ungkapan tentang perbedaan anak dan orang dewasa dalam belajar bahwa anak belajar ibarat mengukir di atas batu. Artinya anak-anak lebih lama untuk memahami sesuatu tetapi kalau sudah paham terus diingatnya dan sulit untuk dilupakan. Sedangkan pada orang dewasa, ia mudah memahami sesuatu tetapi belum beberapa lama sudah terlupakan. Ibarat mengukir di atas air, oleh karena itu dalam proses belajar orang dewasa catatan dan resume atau rangkuman materi pelajaran sangatlah membantu peserta.

Sedangkan faktor fisiologis merupakan faktor yang mempengaruhi pendidikan orang dewasa yang disebabkan oleh berkurangnya ketahanan fisik orang dewasa. Bertambahnya usia mempengaruhi ketahanan fisik terutama penglihatan, pendengaran, artikulasi, dan penyakit. Berikut ini beberapa faktor fisiologis yang mempengaruhi pendidikan orang dewasa.

1. Faktor penglihatan

Pada umumnya orang lanjut usia (40 – 60 tahun), ketajaman penglihatan berkurang oleh karena itu pengelompokan peserta jangan terlalu banyak. Usahan setiap kelompok antara 15 – 25 orang, sehingga dimungkinkan penataan tempat duduk lebih dekat dengan sumber belajar. Media pembelajaran seperti OHP, flipchart, slide, dan lain-lain agar dibuat sedemikian rupa sehingga peserta dapat melihat dengan jelas.

2. Faktor pendengaran

Tak dipungkiri pada usia lanjut fungsi pendengaran juga menurun. Dalam hal ini perlu pengaturan secara baik dari fasilitator maupun media yang digunakan seperti radio, kaset, dan lain-lain harus memungkinkan semua peserta dapat mendengar dengan jelas.

3. Faktor artikulasi

Artikulasi dipengaruhi oleh struktur alat-alat ucap di dalam rongga mulut. Pada usia lanjut, banyak yang sebagian giginya tanggal, tenggoroan yang tidak sesempurna pada masa remaja. Apalagi yang mendapat gangguan syaraf akibat stroke, bibir menurun, dan pipi cekung serta tidak jarang secara reflek bergetar, dan lain-lain. Kondisi seperti ini mempengaruhi pelafalan seseorang. Pelafalan yang tidak tepat mempengaruhi makna bahasa. Hal tersebut perlu disadarin oleh fasilitator agar pelafalan kata diupayakan dengan tepat.

4.  Faktor penyakit

Bertambah usiapun sering dibarengi dengan penyakit yang disebabkan fungsi organ tubuh mulai berkurang. Biasanya penyakit yang mengiringi usia itu adalah gula darah, kolesterol, tekanan darah yang meninggi atau menurun, dan lain-lain. Gangguan penyakit ini mengurangi stamina fisik dan ketahanan psikis. Dengan kondisi ini perlu diperhatikan: Agenda pelajaran perlu dipertimbangkan untuk tidak menjadwalkan proses belajar hingga  larut malam, latihan fisik yang berlebihan dan pengaturan menu makanan yang cocok.

PRINSIP-PRINSIP BELAJAR ORANG DEWASA

Orang dewasa belajar berdasarkan prinsip-prinsip tertentu, bila prinsip belajar ini tidak dipenuhi, maka proses pembelajaran cenderung mengalami kegagalan. Oleh karena itu bagi pemateri/fasilitator yang sering melatih dalam diklat orang dewasa perlu memperhatikan prinsip-prinsip belajar orang dewasa. Ada beberapa prinsip belajar bagi orang dewasa yaitu sebagai berikut:

1. Nilai manfaat

Orang dewasa akan belajar dengan baik bila apa yang dipelajari bermanfaat bagi dirinya.

2. Sesuai dengan pengalaman

Orang dewasa akan belajar dengan baik apabila bahan yang dipelajari sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki.

3. Masalah sehari-hari

Orang dewasa akan belajar dengan baik apabila bahan yang dipelajari berpusat pada maslalah yang dihadapi sehari-hari.

4. Praktis

Orang dewasa akan belajar dengan baik apabila bahan yang dipelajari bersifat praktis dan mudah diterapkan.

5. Sesuai kebutuhan

Orang dewasa akan belajar dengan baik apabila bahan yang dipelajari

6. Menarik

Orang dewasa akan belajar dengan baik apabila bahan yang dipelajari menarik baginya.

7. Berfarisipasi aktif

Orang dewasa akan belajar dengan baik apabila bahan yang dipelajari ia mengambil bagian atau berperan aktif dalam pembelajaran.

8. Kerja sama

Orang dewasa akan belajar dengan baik apabila terdapat kerjasama dan saling menghargai antara pemateri dan peserta.

9. Lakukan perhatian dalam suasana informal

Orang dewasa suka pelatihan yang akrap, santai, dan tidak kaku. Suasana yang nyaman perlu diciptakan dalam pelatihan.

10. Variasikan metode pembelajaran

Lakukan perubahan pada kecepatan dan teknik pelatihan dari waktu ke waktu. Gunakan variasi metode pembelajaran dan penyampaian.

11. Hilangkan factor ketakutan

Setiap orang akan mencapai kesuksesan belajar bila factor ketakutan dapat dihilangkan atau dikurangi seminimal mungkin.

12. Arahkan dan berikan motivasi

Berilah pertolongan kepada orang dewasa dengan cara menyebutkan referensi, memberi contoh, dan memberikan dorongan.

13. Tunjukkan antusiasme

Tunjukkan antusiasme dalam mengajar kepada orang dewasa, agar mereka juga bersemangat dalam belajar.

MASALAH PEMBELAJARAN ORANG DEWASA

Orang dewasa mempunyai permasalahan yang lebih banyak banyak dan komplek dibanding dengan anak-anak, oleh karena itu pendidikan dan pembelajaran orang dewasa juga lebih sulit dan harus sesuai dengan kebutuhan orang tersebut. Ada beberapa masalah pokok dalam pedidikan orang dewasa yaitu, masalah yang menyangkut motivasi, masalah yang mennyangkut melupakan kebiasaan, masalah yang menyangkut daya ingat yang buruk, dan masalah yang menyangkut penolakan perubahan.

1. Masalah yang Menyangkut motivasi

Banyak orang dewasa yang merasa sudah tua yakin bahwa mereka lebih sukar dilatih. Mereka kurang bisa menyesuaikan diri dengan perubahan dan terlalu  tua untuk belajar. Sifat ini akan lebih menekan apabila mereka diperlakukan seperti anak-anak. Orang tua yang diperlakukan seperti anak-anak akan menimbulkan banyak masalah seperti motivasi yang rendah, serta bakan dan pengalaman mereka tidak dapat dimanfaatkan dan dikembangkan. Untuk menghadapi orang dewasa seperti ini diperlukan suatu metode atau pendekatan yang tepat serta menggunakan teknik-teknik partisipatif. Orang dewasa akan lebih siap belajar apabila mempunyai dorongan untuk ingin tahu sesuatu, sehingga pendidikan/pembelajaran orang dewasa perlu dirancang untuk dapat menimbulkan rangsangan keingintahuan.

2. Hal yang Menyangkut Melupakan Kebiasaan.

Orang dewasa sering mempunyai kesulitan untuk memperbaiki kesalahan yang telah menjadi kebiasaannya. Mereka cenderung mengulangi kesalahan walaupun sudah mengetahui kesalahan yang diperbuat.

3. Permasalahan yang Menyangkut Daya Ingat yang Buruk.

Orang dewasa cenderung memberi nilai rendah terhadap kemampuannya mempelajari sesuatu, terutama hal-hal yang baru. Orang dewasa akan belajar dengan kemampuan maksimal bila yang dipelajari sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan mereka. Bila orang dewasa sedang memusatkan perhatian tetntang sesuatu yang dipelajari dan kemudian mendapat gangguan, maka mereka akan segera melupakan apa yang sedang dipelajari.

4. Permasalahan yang Menyangkut Penolakan terhadap Perubahan.

Orang dewasa seolah-olah sudah yakin terhadap apa yang pernah dipelajari, sehingga cinderung untuk menolak hal-hal yang sifatnya baru. Mereka sulit menerima gagasan, konsep, metode, dan prinsip yang baru. Hal ini yang  menyebabkan mereka bertindak secara otoriter sebagai cara untuk mempertahankan diri.

KESIMPULAN

Belajar pada hakekatnya adalah kegiatan yang dilakukan secara sadar oleh seseorang yang menghasilkan perubahan tingkah laku pada dirinya sendiri, baik dalam bentuk ketrampilan, pengetahuan, maupun sikap. Selama berlangsungnya terjadilah proses interaksi antara orang yang melakukan kegiatan belajar, yaitu warga belajar dengan sumber belajar

Pendidikan untuk anak-anak dan orang dewasa yang dilaksanakan pada saat ini terjadi dari berbagai situasi dan melalui berbagai kegiatan. Sekolah dan lembaga sejenis bukan satu-satunya yang berhak untuk mendidik, tetapi masih banyak institusi lain seperti keluarga, tempat ibadah, tempat kerja, media masa, perpustakaan dan masih banyak institusi yang lain. Pendidikan seharusnya berada di semua institusi dan saling  berinteraksi untuk membantu individu dalam meningkatkan diri selama hidupnya.

Orang dewasa mempunyai keterbatasan yang sangat mempengaruhi proses pembelajaran. Secara umum ada dua factor yang mempengaruhi proses pembelajaran orang dewasa, yaitu faktor psikologis dan faktor fisiologis. Factor fisiologis menyangkut ketahanan fisik orang seperti pendengaran dan penglihatan, sedangkan factor psikologis menyangkur tentang bakat/kecerdasan, motivasi, perhatian, berfikir, dan daya ingat.

Untuk itu pembelajaran bagi orang dewasa harus memperhatikan berbagai hal yang menyangkut dengan prinsip-prinsip dasar pembelajaran orang dewasa. Prinsip-prinsip tersebut seperti nilai manfaat, sesuai dengan pengalaman, sesuai dengan masalah yang dihadapi, praktis, sesuai dengan kebutuhan, menarik, dan fartisisipasi aktif dalam belajar.

Ada beberapa masalah yang perlu diperhatikan pada pembelajaran orang dewasa yaitu masalah motivasi, kesulitan melupakan kebiasaan, daya ingat yang buruk, dan kecenderungan menolak terhadap hal yang baru.

DAFTAR PUSTAKA

Arief S. Sadiman, 1990. Media Pendidikan. Jakarta: Pustekom Dekdikbud, CV Rajawali.

Dimyati dan Mudjiono, 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka cipta.

……………, 2007. Pendidikan Orang Dewasa. Jakarta: Lembaga Administrsi Negara.

……………, 2007. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.

 

Artikel Lain

Pengembangan Profesionalisme Guru

Post Views: 847 PENGEMBANGAN PROFESIONALISME GURU PASCA PERMENEGPAN & RB NOMOR 16 TAHUN 2009Penulis :  …