Info Penting
Home / Widya Iswara / Ngadimin, M.Pd / Menata Kembali Komitmen Widyaiswara

Menata Kembali Komitmen Widyaiswara

Ngadimin, M.Pd

Widyaiswara LPMP Daerah Istimewa Yogyakarta

email  : [email protected]

 

Abstrak

Komitmen widyaiswara adalah suatu ketetapan jiwa bagi widyaiswara. Dengan lima komitmen, meyakini, mengilmui, mengamalkan, mengekalkan, dan menyiarkan kompetensinya, diharapkan widyaiswara dapat dijadikan sebagai sosok prima di tengah-tengah tugasnya. Tidak mungkin menjadi sosok yang prima manakala seorang yang hanya pintar berbicara tanpa meyakini terhadap tugas yang diamanahkan negara kepadanya. Widyaiswara harus menjadi seorang yang menyampaikan apa yang diyakini, diketahui, dan dilakukan dalam hidupnya sesuai dengan standar kompetensi widyaiswara.

Kini dapat kita temui model karakter widyaiswara, yaitu widyaiswara wajib, widyaiswara sunah,  widyaiswara haram, widyaiswara  makruh, dan widyaiswara mubah. Widyaiswara wajib adalah widyaiswara idola karena memiliki karakter positif dan dapat melaksanakan tugasnya melampaui standar. Widyaiswara sunah adalah sosok widyaiswara yang memiliki karakter positif dan dapat melaksanakan tugasnya sesuai standar kompetensinya. Widyaiswara haram merupakan sosok widyaiswara yang tidak dapat diteladani karena segala perilakunya tidak mencerminkan karakter sebagaimana diharapkan dalam empat standar kompetensi widyaiswara. Sedangkan widyaiswara makruh menempati rangking di antara widyaiswara haram dan seorang widyaiswara mubah, dan widyaiswara mubah merupakan karakter yang pas-pasan saja.

Karena adanya  karakter yang berada di bawah standar sebagaimana dijelaskan di atas, maka disarankan agar ada upaya peningkatan sehingga nantinya semua widyaiswara memiliki karakter minimal sebagaimana dimaksudkan seperti widyaiswara sunah. Upaya itu adalah menanamkan komitmen kepada setiap widyaiswara, yaitu meyakini, mengilmui, mengamalkan, mengekalkan, dan menyiarkan kompetensinya.

Sementara itu, masih ada problematika tentang penilaian kinerja widyaiswara. Saat ini untuk memenuhi tuntutan pengumpulan angka kredit jabatan fungsional widyaiswara dilakukan dengan mengumpulkan dokumen bukti fisik. Dokumen bukti fisik ini akan dinilai oleh pengusul (widyaiswara yang bersangkutan) dan selanjutnya disampaikan kepada Tim Penilai Angka Kredit Jabatan Fungsional Widyaiswara melalui Daftar Usul Penetapan Angka Kredit. Hal ini mirip sekali dengan penetapan angka kredit jabatan guru pada masa sebelum diterapkan Permeneg Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 tahun 2009. Dengan kata lain yang dinilai adalah dokumen bukti fisik. Mencermati hal itu, penulis menyampaikan ide dengan adanya penilaian kinerja widyaiswara dengan pengamatan langsung dan pemantauan sebagaimana pada Penilaian Kinerja Guru (PKG).

Kata kunci :    menata, komitmen, dan widyaiswara