INFO PENTING
Home / Artikel / Kontribusi Pendidikan Karakter Bangsa dalam Membangun Jati diri Siswa

Kontribusi Pendidikan Karakter Bangsa dalam Membangun Jati diri Siswa

Kontribusi Pendidikan Karakter Bangsa
dalam Membangun Jati diri Siswa

oleh

heniDra. Sri Heny Kusningsih

A.Pendahuluan

Berbagai tantangan dialami oleh masyarakat dewasa ini baik secara eksternal maupun internal.Tantangan Eksternal, berupa arus gelombang globalisasi dan pertarungan antar ideologi melalui media massa. Tantangan Internal yang bersumber dari keragaman kebudayaan, suku, agama dan ras. Demikian pula tuntutan kebutuhan hidup yang semakin meningkat mengakibatkan melemahnya fungsi keluarga dan lembaga-lembaga keagamaan sebagai sumber pendidikan moral  yang pertama dan utama  menjadi sumber kerusakan moral bangsa, dipicu oleh derasnya arus globalisasi di segala bidang serta melemahnya  penghayatan terhadap nilai-nilai semua ini menjadi penyebab kurangnya jati diri siswa.

Pembangunan karakter merupakan upaya perwujudan amanat Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 dilatarbelakangi oleh realita permasalahan kebangsaan yang berkembang saat ini baik secara eksternal maupun internal. Semangat pembangunan nasional, utamanya pembangunan SDM menjadikan  karakter sebagai salah satu bagian yang amat penting. Secara implisit ditegaskan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) tahun 2005-2015, di mana pendidikan karakter ditempatkan sebagai landasan untuk mewujudkan visi pembangunan nasional, yaitu “mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila.”

Visi pembangunan nasional  tertuang dalam fungsi dan tujuan pendidikan nasional. “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional UUSPN).

Dengan demikian, RPJPN dan UUSPN merupakan landasan yang kokoh untuk melaksanakan secara operasional pendidikan budaya dan karakter bangsa sebagai prioritas program Kementerian Pendidikan Nasional 2010-2014, yang dituangkan dalam Rencana Aksi Nasional Pendidikan Karakter (2010): pendidikan karakter disebutkan sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik & mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati.

Karakter bangsa menentukan kemajuan atau kemunduran suatu bangsa . Menurut Simon Philips (2008), karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran, sikap, dan perilaku yang ditampilkan.

Karakter bangsa merupakan aspek penting dari kualitas SDM karena turut menentukan kemajuan suatu bangsa. Karakter yang berkualitas perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini. Usia dini merupakan masa emas namun kritis bagi pembentukan karakter seseorang

Wadah untuk pengembangan dan pembentukan  karakter siswa adalah keluarga, sekolah dan masyarakat (lingkungan sosial). Apa yang dapat dilakukan oleh orang tua di rumah serta guru-guru, siswa, dan warga sekolah lainnya adalah wahana untuk pengembangan karakter tersebut? Kita menyadari bahwa pengembangan karakter memerlukan waktu lama. Karena itu, pengembangan karakter harus dilakukan sedini mungkin. Keluarga dan sekolah sebagai pusat pembudayaan berbagai nilai dan perilaku baik, yang ingin kita lihat di masyarakat nanti. menjadi wadah yang sangat strategis dalam pengembangan nilai-nilai dan budaya  yang baik dalam rangka pengembangan jati diri.

Jati diri atau kepribadian siswa terbentuk sebagai hasil proses Interaksi dengan lingkungan baik lingkungan secara alami dan lingkungan artificial (yang diciptakan).Lingkungan alami adalah lingkungan yang sesungguhnya baik bersifat alam maupun budaya riil masyarakat. Sedangkan lingkungan artificial adalah lingkungan yang dikondisikan seperti lembaga lembaga pendidikan formal dan non formal. Jati diri merupakan hasil Interaksi dan hasil sosialisasi lingkungan alami maupun lingkungan artificial .Disamping kedua hal tersebut jati diri seorang siswa juga dipengaruhi unsur temperamen individu yang bersifat bawaan yang menentukan sensitivitas individu pada berbagai pengalaman dan tanggapan terhadap pola-pola interaksi sosial), tingkat pengendalian diri (kemampuan untuk mengatur hasrat, perilaku,  emosi, dan harga diri (pandangan dan pendapat terhadap diri sendiri).

Studi Kochanska (1993, I995, 1997) tentang temperamen anak-anak (sifat  pemalu, impulsif atau agresif) dan perkembangan kesadaran memberikan petunjuk untuk menyimpulkan bahwa temperamen anak-anak dapat mempengaruhi metode pengasuhan. Sebagai contoh, penalaran ibu, permintaan sopan, saran, dan gangguan, diprediksi menginternalisasi anak usia 2 -3 tahun yang terhambat tapi tidak bagi anak yang impulsif. Anak Impulsif ditemukan mematuhi arahan ketika mereka memiliki sandaran yang aman: pemaksaan kekuasaan pada anak impulsif mengakibatkan kemarahan dan pembangkangan. Dalam metode ini, kemudian, untuk internalisasi moral bagi anak-anak tersebut adalah dengan menjaga kasih sayang orang tua.

Selain itu, perkembangan moral berhubungan dengan kontrol diri. Beberapa studi (Mischel, 1974; Mischel, Shoda, & Peake, 1988) telah menunjukkan bahwa anak pra sekolah yang menunjukkan pengendalian diri dengan menunda kepuasan segera, lebih berhasil daripada anak yang impulsif dalam melawan godaan untuk main curang di eksperimen permainan. Juga, sepuluh  tahun kemudian, anak-anak prasekolah yang mengendalikan diri tersebut lebih kompeten dan bertanggung jawab secara sosial, karena anak-anak yang dapat menunda kepuasan dapat memiliki waktu untuk menilai  isyarat-isyarat sosial dan dengan demikian memungkinkan fungsi positif kelompok pertemanan (Gronau & Waas, 1997).

Berdasarkan paparan di atas masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:

  1. Bagaimana kontribusi pendidikan karakter dalam proses pembentukan jatidiri siswa?
  2. Lembaga manakah yang memegang peran penting dalam pembentukan jati diri siswa?
Pengembangan Nilai-nilai Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

Pengembangan Nilai-nilai Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

Pengembangan Nilai Budaya dan Karakter Bangsa melalui Setiap Mata Pelajaran

Pengembangan Nilai Budaya dan Karakter Bangsa
melalui Setiap Mata Pelajaran

Artikel selengkapnya dapat diunduh dengan cara klik tautan ini.

Jika Anda menyukai artikel di website ini, silahkan input Email Anda pada Form yang disediakan, lalu Klik Untuk Berlangganan. Dengan begitu, Anda akan berlangganan setiap update artikel terbaru dari lpmpjogja.org gratis via FeedBurner ke Email Anda.Dan jangan Lupa Klik Link Konfirmasi di email Anda.

Silahkan ketik email Anda:

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates