PEMBELAJARAN TERPADU PADA SEKOLAH DASAR

 

PEMBELAJARAN TERPADU PADA SEKOLAH DASAR

Harli TrisdionoWidyaiswara Muda
Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Prov. D.I. Yogyakarta
E-mail :
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it


Abstrak

Pendekatan pembelajaran tematik integratif merupakan pembelajaran yang memadukan kecakapan dan kompetensi inter, multi, antar, dan trans mata pelajaran. Keterpaduan kecakapan dan kompetensi bermuara pada kesiapan siswa menghadapi tantangan dalam kehidupan nyata. Makalah ini membahas pembelajaran terpadu menurut Fogarty dan Drake & Burns, sistem penilaian dan evaluasi, penerapan model, dan hambatan penerapan pembelajaran tematik integratif.

 

 

Kata Kunci : pembelajaran terpadu, kecakapan siswa, kompetensi siswa.

Pendahuluan

Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan Musliar Kasim mengatakan bahwa Di SD, semua mata pelajaran dilaksanakan dengan tematik integratif berdasarkan tema-tema yang sudah disusun. Indikator IPA dan IPS mulai muncul di kelas IV hingga VI, tetapi pembelajarannya tetap tematik integratif (KOMPAS.com, 17 Janurai 2013). Lebih lanjut ditegaskan mata pelajaran IPA dan IPS di SD tidak diajarkan secara terpisah, tetapi indikatornya dibuat muncul atau diperjelas sejak kelas IV SD.Konsep pembelajaran integratif merupakan konsep pembelajaran dengan memadukan materi pelajaran dengan kehidupan nyata dan/atau ketrampilan tertentu. Beberapa konsep dikemukan oleh para ahli antara lain Fogarty (1991), Drake & Burns (2004),

Menurut Atan (2009) pembelajaran tematik integratif dapat diimplementasikan melalui : (1) Integrasi keterampilan dalam subjek; (2) Integrasi keterampilan di sejumlah mata pelajaran; (3) Asimilasi berbagai konten dalam mata pelajaran; (4) Integrasi nilai dalam mata pelajaran; (5) Elemen diajarkan di kurikulum; (6) Integrasi kurikulum dan co-kurikuler; (7) Integrasi pengetahuan dan praktik; (8) Integrasi pengalaman masa lalu dan pengalaman baru yang diperoleh murid.

Makalah ini menyampaikan secara umum pembelajaran terpadu. Penerapan pembelajaran terpadu tidak cukup hanya dengan mengetahui secara teori. Penerapan perlu diikuti dengan pengkajian pembelajaran agar kegamangan ketercapaian kompetensi mata pelajaran oleh siswa dapat terlaksana.

Pembelajaran Terpadu

Menurut Fogarty (1991) terdapat sepuluh model kurikulum terpadu (integrated curriculum) dimulai dari eksplorasi dengan mata pelajaran tunggal (within single disciplines) yaitu model fragmented, connected, dan nested; terpadu beberapa mata pelajaran (across several disciplines) yaitu model sequenced, shared, webbed, threated, dan integrated); dioperasikan diantara pebelajar sendiri yaitu model immersed; dan jejaring diantara pebelajar yaitu model networked. Sedang menurut Drake & Burns (2004:8) terdapat tiga pendekatan kurikulum terpadu yaitu multidisciplinary, interdisciplinary, dan transdisciplinary.

1. Pembelajaran Terpadu Menurut Fogarty

a. Model Fragmented

Model ini merupakan model penggalan, yaitu memandang kurikulum dalam penggalan-penggalan mata pelajaran terpisah. Tipikalnya kurikulum terbagi dalam pelajaran utama yaitu matematika, sains, bahasa, dan ilmu sosial. Pendekatan fragmented dilakukan untuk memadukan konsep-konsep dan kompetensi dalam satu mata pelajaran. Antar kompetensi dipelajari secara bersamaan. Kompetensi mendengar, membaca, dan menulis dalam pelajaran bahasa dilakukan secara bersamaan.

b. Model Connected

Model connected (terhubung) memandang mata pelajaran dengan menggunakan kaca pembesar (opera glass, kaca pembesar yang dipakai oleh penonton opera yang hanya satu lensa), menyediakan secara detil, seluk beluk/rinci, dan interkoneksi dalam satu mata pelajaran.

c. Model Nested

Model Nested atau model sarang memandang kurikulum dari tiga dimensional kaca baca, sasaran dimensi ganda dari pembelajaran. Tujuan pembelajaran tidak hanya pada mata pelajaran semata, namun ada beberapa pemahaman dan/atau ketrampilan yang terkuasai.

d. Model Sequenced

model sequenced melihat kurikulum menggunakan kaca-mata, lensa terbagi dalam dua bagian, namun terhubung oleh sebuah bingkai atau frame. Topik atau mata pelajaran terpisah, namun dapat dihubungkan dengan sebuah bingkai konsep yang menaungi topik atau mata pelajaran tersebut.

e. Model Shared

Model shared melihat kurikulum menggunakan binoculars, menghubungkan dua mata pelajaran secara bersama untuk melihat sebuah topik. Keterhubungan antar dua mata pelajaran diorganisasi sehingga dapat dilakukan proses pembelajaran secara bersama-sama.

f. Model Webbed

Model webbed atau jaring laba-laba melihat kurikulum menggunakan teleskop, menangkap konstelasi pembuka dari mata pelajaran, yang membentuk sebuah tema. Tema yang ditentukan menjadi langkah awal dalam melakukan pembelajaran. Indikator masing-masing kompetensi ilmu dan pengetahuan terjabarkan dari tema tersebut.

g. Model Treaded

Model treaded melihat kurikulum dengan menggunakan kaca pembesar (magnifying glass). Ide besar diperbesar melalui semua isi dengan pendekatan kurikulum-meta (metacurricular). Model ini menggabungkan ketrampilan berpikir, ketrampilan sosial, ketrampilan belajar, mengelola grafik, teknologi, dan pendekatan kecerdasan ganda (multiple intellegences).

h. Model Integrated

model integrated (terpadu) melihat kurikulum menggunakan kaleidoskop. Topik interdisiplin (antar mata pelajaran) ditata kembali diantara konsep yang sama/mirip dan munculnya pola dan rancangan. Melalui pendekatan antar matapelajaran, model integrated memadukan/mencampurkan empat mata pelajaran utama dengan menemukan persamaan ketrampilan, konsep, dan sikap pada keseluruhannya.

g. Model Immersed

Model immersed melihat kurikulum menggunakan mikroskop. Melalui cara masing-masing keseluruhan konten disaring dengan menggunakan lensa ketertarikan dan keahlian yang dimiliki. Dengan menggunakan model ini, pebelajar sedikit atau sama sekali tidak ada intervensi atau bantuan dari pihak luar.

h. Model Networked

Model networked atau jejaring melihat kurikulum menggunakan prisma. Menciptakan dimensi dan pengarahan ganda terhadap fokus, dengan menggunakan berbagai cara eksplorasi dan eksplanasi.

2. Pembelajaran Terpadu Menurut Drake dan Burns

Drake & Burns (2004:8) membedakan tiga pendekatan kurikulum terpadu yaitu multidisciplinary, interdisciplinary, dan transdisciplinary.

a. Pendekatan multimatapelajaran terutama fokus pada mata pelajaran. Penggunaan pendekatan ini dilakukan dengan mengorganisasi standar dari matapelajaran di sekitar sebuah tema.

Gb. 1. Terpadu Multimatapelajaran (Diadaptasi dari Drake & Burns, 2004)

Multimatapelajaran terdiri atas pendekatan intradisiplinari, penggabungan/fusion, service learning (belajar melayani masyarakat), learning centers/parallel disciplines; Unit berbasis tema (theme-based units).

b. Pendekatan Antar-matapelajaran (interdisciplinary)

Pendekatan antar-matapelajaran dilakukan dengan menggorganisasi kurikulum di sekitar materi bersama antar mata pelajaran. Pembelajaran dilakukan dengan mengidentifikasi potongan/irisan konsep dan ketrampilan antar matapelajaran. Masing-masing mata pelajaran masih teridentifikasi, namun agak samar dibanding pendekatan multi- matapelajaran.

Gb. 2. Terpadu Interdisiplin (diadaptasi dari Drake & Burns, 2004)

c. Pendekatan transdisciplinary

Pendekatan transdisiplinari dilakukan dengan membangun kurikulum di sekitar pertanyaan dan perhatian siswa. Siswa mengembangkan kecakapan hidup seperti yang diterapkan pada interdisiplinari dan ketrampilan mata pelajaran dalam konteks kehidupan nyata.

Sistem Penilaian dan Evaluasi

Penilaian dan evaluasi dilakukan untuk mencari informasi tentang pencapaian pengetahuan dan pemahaman peserta didik, pengembangan skill, dan pengembangan sosial dan afektif peserta didik dengan memanfaatkan penilaian alternatif dan cara formal (Widodo, 2010).

Penilaian pembelajaran terpadu menyangkut tiga ranah pembelajaran yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Selain ketiga ranah tersebut dilakukan pengukuran dan penilaian terhadap kecakapan abad 21 dan karakter yang dikembangkan. Penilaian dilakukan dalam keseluruhan proses dan hasil pembelajaran.

Penilaian proses dilakukan pada waktu proses pembelajaran sedang berlangsung. Pada pendekatan proses produksi, baik produksi barang maupun jasa, pendidikan masuk dalam kategori jasa, maka penekanan pada kefektifan dan keefisienan proses menjadi yang utama. Keefektifan dan keefisienan proses berdampak pada hasil yang dicapai, dan ketercapaian tujuan sebuah proses. Penilaian proses pembelajaran dilakukan terhadap kegiatan guru, kegiatan siswa, pola interaksi guru-siswa dan keterlaksanaan proses belajar mengajar. Dalam konteks sistem pendidikan di Indonesia saat ini, maka penilaian proses digabungkan dengan penilaian hasil. Penilaian proses dilakukan untuk memantau ketercapaian kecakapan menyeluruh siswa, penilaian hasil dilakukan untuk memastikan pencapaian kompetensi seperti yang dimaksud dalam standar isi.

Pelaksanaan penilaian dalam pembelajaran terpadu meliputi : penguasaan materi ajar, karakter yang dikembangkan, pemikiran tingkat tinggi, kecakapan abad 21. Penilaian penguasaan materi ajar dilakukan dengan tes (formatif dan sumatif), dan non tes. Tes berarti secara periodik dilakukan pengecekan penguasaan materi. Non dilakukan dengan mengecek isi dari kegiatan siswa. Pemantauan karakter dilakukan dengan observasi dan wawancara. Pemantauan kemampuan berpikir tingkat tinggi dilakukan dengan pengamatan dan praktik penerapan pemahaman siswa terhadap materi ajar secara terpadu antar mata pelajaran. Pemantauan penguasaan abad 21 dilakukan dengan mengevaluasi kecakapan yang diperlukan dalam kehidupan nyata.

Penerapan Model Tematik Integrated.

Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 secara tegas mengatakan pembelajaran pada Kelas I s.d. III dilaksanakan melalui pendekatan tematik, sedangkan pada Kelas IV s.d. VI dilaksanakan melalui pendekatan mata pelajaran. Wacana perubahan pada kurikulum 2013 semua kelas pada sekolah dasar menggunakan pendekatan tematik integratif. Penerapan model tematik integratif tidak meninggalkan model dan metode pembelajaran yang lain. Tematik integratif merupakan model payung. Strategi pembelajaran lain yang bertujuan untuk meningkatkan kecakapan tertentu tetap dilaksanakan dengan pendekatan tematik integratif. Penerapan untuk kelas rendah (1, 2, dan 3) Sekolah Dasar dilakukan dengan pendekatan tematik webbed jaring labang-laba. Kelas atas (4, 5, dan 6) dengan pendekatan integrated atau terpadu beberapa mata pelajaran.

Persoalan yang muncul selama ini dalam penerapan pembelajaran tematik integratif adalah ketidakberanian dan kegamangan guru dalam menerapkan tematik integratif selain pendekatan standar isi yang masih pendekatan mata pelajaran juga karena kurangnya pengetahuan. Penerapan pendekatan tematik integratif membutuhkan persiapan dan kompetensi yang memadai. Clark (2005) menjelaskan untuk merancang dan melaksanakan kurikulum integartif diperlukan syarat-syarat sebagai berikut : 1) filosofi; 2) mengembangkan staf; 3) komunitas pembelajar yang mendukung (supportive learning communities); dan 4) Kepemimpinan yang berdedikasi.

1) Filosofi, perencana dan pelaksana kurikulum harus memahami filosofi dan teori yang melandasi pembelajaran integratif dan berpusat pada siswa; dan filofosi dan teori materi pelajaran. Penerapan sebuah metode pembelajaran harus didasari pada teorinya. Penguasaan filosofi dan teori yang kuat, memberi keyakinan keberhasilan pelaksanaannya. Perencanaan pembelajaran yang dimulai dari merumuskan indikator pembelajaran sebagai penjabaran standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) membutuhkan penguasaan filosofi dan teori atau isi mata pelajaran. Tujuan pembelajaran dirumuskan dengan memperhatikan isi materi, pencapaian kecakapan dan perilaku (afektif), serta ranah psikomotor. Perencanaan pelaksanaan pembelajaran dengan menyiapkan strategi pembelajaran yang tepat membutuhkan pemahaman terhadap strategi tersebut. Dapat kita lihat islustrasi materi kelas 1 semester 1 berikut :

Perumusan indikator pembelajaran memerlukan kecermatan untuk tidak meninggalkan keluasan dan kedalaman materi; berpikir tingkat tinggi; kecakapan afektif dan psikomotor; dan pendidikan karakter. Perumusan indikator pembelajaran didahului dengan melakukan pemetaan materi yang diawali dari tema.

Tema : Diri Sendiri

Isi Materi : Nama

Anggota tubuh

Jenis kelamin

Kesukaan terhadap warna

Kesukaan terhadap benda

Alamat rumah

Kesukaan terhadap makanan

Berdasarkan KD yang tercantum pada gambar di atas dan dari esensi diri pribadi, dan taksonomi tujuan pembelajaran Bloom (Anderson dan Krathwohl, 2001) indikator pembelajaran yang dapat didiskusikan sebagai berikut :

(1) menyebutkan nama sendiri dengan pelafalan dan intonasi yang benar

(2) mendiskusikan dengan teman sebangku bagian anggota tubuh

(3) menghitung jumlah anggota tubuh dan benda yang menempel pada tubuhnya

(4) memerinci waktu bangun pagi, berangkat sekolah, pulang sekolah, dan tidur malam

(5) membandingkan ciri-ciri diri sendiri dengan teman lainnya

(6) mengidentifikasi, menyusun dan menjiplak huruf-huruf penyusun namanya

Penerapan model pembelajaran integrated (terpadu) memadukan SK/KD masing-masing mata pelajaran yang saling terhubung untuk membangun suatu topik utama. Gabungan dari masing-masing KD menjadi dasar dalam menentukan indikator pembelajaran dan tujuan pembelajaran.

Ambil contoh kelas IV untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, IPA, IPS, dan Matematika.

KD Bahasa Indonesia : Menulis petunjuk untuk melakukan sesuatu atau penjelasan tentang cara membuat sesuatu (menulis).

KD IPA : Mendeskripsikan hubungan antara struktur kerangka tubuh manusia dengan fungsinya

KD IPS : Membaca peta lingkungan setempat (kabupaten/kota, provinsi) dengan menggunakan skala sederhana

KD Matematika : Melakukan operasi perkalian dan pembagian

KD Gabungan yang dapat didiskusikan adalah : menulis petunjuk penggunaan alat peraga struktur kerangka tubuh manusia dan fungsinya, dan menemukan skala antara alat peraga dengan rata-rata tinggi badan siswa.

2) Mengembangkan staf. Staf dalam konteks ini adalah semua pemangku kepentingan pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Pendidikan, LPMP, Pengawas Sekolah, Kepala Sekolah, Guru, dan Tenaga Kependidikan. Pada tataran pelaksanaan kegiatan persekolahan sehari-hari, yang terlibat secara langsung adalah LPMP (khususnya Widyaiswara); Pengawas Sekolah; Kepala Sekolah; dan Guru. Keempat unsur ini dituntut menguasai filosofi dan teori pembelajaran tematik integratif, dan strategi pembelajaran dari sisi keluasan dan kedalamannya. Mekanisme pemeliharaan dan pengembangan kompetensi yang seiring dengan jabatan fungsional yang diembanya dilakukan secara sistematis.

3)  Komunitas Pembelajaran yang Mendukung (supportive learning communities). Sekolah sebagai organisasi dituntut untuk menjadi organisasi pembelajar (learning organisation).

4)   Kepemimpinan yang berdedikasi. Peran pemimpin dalam sebuah organisasi adalah : menciptakan visi, membangun tim, memberikan penugasan, mengembangkan orang, dan memotivasi anak buah (Arjanti, 2012).

Hambatan Penerapan Kurikulum Tematik Integratif

Penerapan kurikulum tematik integratif membutuhkan kesiapan pemangku kepentingan dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi. Venville (2009:4) mengidentifikasi hambatan dalam penerapan kurikulum tematik integratif yaitu : faktor guru yaitu pengetahuan dan kualifikasi materi pelajaran/subject matter, pengetahuan isi pedagogigal, kepercayaan tentang dan pengalaman sekolah, sebagaimana praktik pembelajaran selama ini; dan faktor kontekstual yaitu kebijakan administratif, panduan kurikulum, proses penilaian dan pelaporan, dan tradisi sekolah. Kesuksesan penerapan kurikulum tematik integratif ditentukan oleh kesiapan dalam mengeliminir hambatan tersebut.

Langkah dalam mengelimir hambatan dari faktor guru secara umum dilakukan dengan menyusun program peningkatan kompetensi secara terstruktur. Pendidikan dan pelatihan bagi guru menjadi penting maknanya. Materi pendidikan dan pelatihan secara garis besar terbagi dalam dua kelompok yaitu penguasaan materi ajar, atau diklat berbasis kompetensi mata pelajaran, dan kecakapan ilmu dan teknologi pendidikan. Ilmu pendidikan bicara tentang filosofi dan teori pendidikan, teknologi pendidikan bicara tentang metode, model, strategi, sumber, media, dan lingkungan pembelajaran.

Perkembangan ilmu dan teknologi pendidikan sudah sedemikian pesat. Di sekolah, sebagian besar guru sudah bertugas lebih dari sepuluh tahun. Sebagian besar guru selama menjadi guru kesempatan mengikuti pendidikan dan pelatihan yang secara khusus membahas dan mendalami ilmu dan teknologi pendidikan kurang. Semenjak tahun 2004, guru banyak disibukkan menyesuaikan dengan muatan kurikulum. Tahun 2004 muncul “piloting” kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Penerapan KBK belum mapan tahun 2006 muncul Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Selama penerapan KTSP sudah mengalami dua kali “intervensi” muatan yaitu pendidikan IMTAQ (iman dan taqwa) dan pendidikan karakter. Penguasaan pedagogial guru ditingkatkan sehingga mampu mengembangkan strategi pembelajaran dengan lebih baik. Pengintegrasian teknologi informasi dan komunikasi sebagai bagian dari kebutuhan ketrampilan dalam dunia nyata menjadi bagian tidak terpisahkan.

Eliminasi faktor konstekstual, di sekolah dasar, dalam rancangan kurikulum 2013 sudah dilakukan. Secara konsep, pembelajaran didekati dengan tematik integratif. Persoalan yang sering mengemuka dan terjadi dalam tataran praktik adalah panduan kurikulum yang kurang tersedia. Hal ini ditambah dengan kemampuan pemangku kepentingan yang bertugas mengawal pelaksanaan kurikulum sangat beragam. Panduan kurikulu, pertama-tama yang harus paham dan menguasai adalah Widyaiswara LPMP dan Pengawas Sekolah. Dua pihak ini yang akan mengawal pelaksanaan kurikulum. Pemahaman tentang kurikulum juga mengandung arti penguasaan teori dan strategi penilaian. pembelajaran tematik integratif

Simpulan

Penerapan pembelajaran terpadu (tematik integratif) perlu ditetapkan wilayah keterpaduannya, apakah dalam satu mata pelajaran, multi mata pelajaran, antar mata pelajaran atau trans mata pelajaran. Persiapan, monitoring, supervisi dan evaluasi pelaksanaan pembelajaran dilakukan secara berkesinambungan untuk memastikan keefektifan dan keefisienannya.

Daftar Pustaka

Anderson, L. W., & Krathwohl, D. R. (2001). A Taxonomy for learning, teaching, and assesing. a revision of Bloom's taxonomy of education objectives. New York: Addison Wesley Longman.

Arjanti, R. A. (2012, March 29). Lima Peranan Penting Pemimpin. Retrieved Januari 25, 2013, from Leadership Centre: http://leadershipqb.com/index.php?option=com_content&task=view&id=6933&Itemid=30

Atan, H. (2009, June 14). Teo-Education.com. Retrieved January 22, 2013, from Teo-Education.com: http://www.teo-education.com/teo/

Clark, E. (2005, May 1). Designing and implementing an integrated curriculum. Retrieved Januari 23, 2013, from Great Ideas: http://great-ideas.org

Drake, S. M., & Burns, R. C. (2004). Meeting standards through integrated curriculum. Alexandria: Association for Supervision and Curriculum Development (ASCD).

Fogarty, R. (1991). Ten ways to integrated curriculum. Educational Leadership, Oktober 1991 , 61-65.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 tahun 2006 Tentang Standar Isi. (2006). Jakarta: Lembaran Negara.

Venville, G. (2009, August). The Newcritic. Retrieved Januari 22, 2013, from Disciplinary versus integrated curriculum : the challenge for school science: http://www.jas.uwa.edu.au

Widodo, S. (2010). Evaluasi Dalam Pembelajaran Terpadu di Sekolah Dasar. Jurnal Teknologi Pendidikan Universitas Surabaya , 8-15.